Desa Gunung Karamat Kembangkan 467 Ribu Tanaman Kopi, Bidik Ekspor hingga Wisata Kebun

- Author

Senin, 14 September 2026 - 14:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

InsightTribun.com|SUKABUMI — Pemerintah Desa Gunung Kramat, Kabupaten Sukabumi, terus mengembangkan komoditas kopi sebagai salah satu program skala prioritas desa.

Pengembangan ini tak hanya menyasar peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk membuka pasar lebih luas hingga mancanegara serta mengembangkan wisata kebun kopi.

Program tersebut digulirkan dengan memanfaatkan potensi wilayah sekaligus mempertahankan keterkaitan sejarah Desa Gunung Kramat dengan kawasan perkebunan sejak masa kolonial Belanda.

Kepala Desa Gunung Kramat, Jaro Subeata, mengatakan pengembangan kopi dilakukan karena komoditas tersebut memiliki akar sejarah yang kuat di wilayahnya.

“Setiap desa kan punya program skala prioritas. Desa kami menyesuaikan dengan kultur yang ada. Kalau kita melihat sejarah perjalanan Desa Gunung Kramat ke belakang, Gunung Kramat merupakan wilayah yang memiliki peninggalan perkebunan Belanda yang dahulu bergerak di bidang teh, karet, dan kopi,” ujar Jaro.

Berangkat dari potensi tersebut, Pemerintah Desa Gunung Kramat kemudian menggulirkan Program Sejuta Kopi. Program ini telah berjalan sekitar enam tahun dan mulai menunjukkan hasil.

Hingga saat ini, sekitar 467.000 tanaman kopi telah ditanam. Sebagian tanaman bahkan sudah memasuki masa produksi dan mulai dipanen oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, program ini sudah berjalan selama enam tahun. Sampai hari ini sudah sekitar 467.000 yang kami tanam dan alhamdulillah sudah mulai dipanen,” katanya.

Meski potensi tanaman cukup besar, produksi kopi Gunung Kramat saat ini masih berada di kisaran 50 ton per tahun. Pemerintah desa pun terus membuka jaringan pemasaran agar hasil produksi petani dapat terserap lebih luas.

Kopi Gunung Kramat kini telah dipasarkan di sejumlah wilayah, mulai dari Kabupaten Sukabumi, Palabuhanratu, Bogor hingga Bandung.
Menariknya, pasar kopi Gunung Kramat juga mulai menembus mancanegara. Pemerintah desa mengaku telah memiliki komitmen pemasaran dengan Yunani, meski volumenya masih terbatas.

“Untuk pemasaran yang lebih luas, kita juga sudah mempunyai komitmen dengan Yunani. Kita ekspor ke Yunani, meskipun masih dalam skala terbatas. Minimal dalam satu tahun kita mengirim sekitar satu ton,” ungkap Jaro.

Perkuat Pengolahan hingga Pengemasan
Tak hanya fokus memperbanyak tanaman, Pemerintah Desa Gunung Kramat juga mulai memperkuat sektor hilir agar hasil panen memiliki nilai tambah.

Desa tersebut mendapatkan dukungan peralatan pengolahan kopi dari Dinas Pertanian. Bantuan itu mencakup peralatan penjemuran, pemecahan atau pengupasan, roasting, pengemasan hingga pemilahan biji berdasarkan kualitas.

“Alhamdulillah, hari ini kita juga mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian terkait pengolahan, mulai dari alat penjemuran, pemecah, roasting, alat untuk pengemasan, serta alat untuk memilih sesuai dengan grade satu sampai lima,” jelasnya.

Dengan dukungan tersebut, pengolahan kopi diharapkan tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Produk kopi diharapkan dapat memiliki kualitas dan nilai jual yang lebih tinggi.

Dari sisi lahan, Pemerintah Desa Gunung Kramat masih memiliki pekerjaan besar. Potensi luasan yang mencapai sekitar 800 hektare menjadi peluang untuk terus memperluas penanaman kopi melalui Program Sejuta Kopi.

“Dari jumlah luasan sekitar 800 hektare, hari ini kita masih terus berupaya agar ke depan bisa semakin banyak yang tertanam melalui Program Sejuta Kopi,” tuturnya.

Bidik Wisata Kebun Kopi
Pengembangan kopi Gunung Kramat juga mulai diarahkan ke sektor pariwisata.

Pemerintah desa tengah menyiapkan konsep wisata berbasis perkebunan kopi. Nantinya, kawasan perkebunan tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga dapat menjadi tempat wisata yang memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung.

Konsep tersebut dinilai sejalan dengan pengembangan pariwisata Kabupaten Sukabumi, termasuk keterkaitannya dengan kawasan geopark.

“Harapannya memang seperti itu. Kalau kita menyesuaikan dengan program pemerintah, termasuk program wisata geopark, Gunung Kramat hari ini masih menjadi faktor penunjang dari kegiatan budaya yang ada di wilayah sekitarnya dan kawasan geopark,” ujarnya.

Salah satu konsep yang tengah diproyeksikan adalah menghadirkan kafe di tengah kebun kopi. Wisatawan nantinya dapat menikmati kopi sekaligus merasakan suasana perkebunan secara langsung.

“Karena kita punya program skala prioritas di kopi, harapan kami ke depan justru akan membuat kafe-kafe di kebun kopi,” kata Jaro.

Usulan tersebut bahkan telah dibawa dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan. Pemerintah desa juga telah menyampaikannya kepada anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari daerah pemilihan setempat.

“Kemarin sudah di Musren Kecamatan kita ajukan juga kepada dewan perwakilan rakyat dapil satu, Ibu Leni. Mudah-mudahan bisa mendorong terkait program itu,” katanya.

Pengembangan wisata kebun kopi ditargetkan menjadi salah satu program skala prioritas Desa Gunung Kramat pada 2027.

Kopi Sachet Jadi Target Berikutnya
Selain perkebunan dan wisata, Pemerintah Desa Gunung Kramat juga tengah membidik pengembangan produk kopi dalam bentuk kemasan sachet.

Produk tersebut dinilai lebih mudah dipasarkan dan dijangkau masyarakat. Namun, untuk masuk ke tahap produksi massal, pihak desa masih membutuhkan penelitian serta persiapan yang matang.
“Kalau untuk lokal sendiri, masyarakat sebenarnya menginginkan dalam bentuk sachet. Tetapi untuk sachet ini harus melalui penelitian yang memang serius,” jelas Jaro.

Dari sisi legalitas, produk kopi Gunung Kramat disebut telah memenuhi sejumlah persyaratan. Perizinan telah diperoleh dan proses sertifikasi halal juga telah diselesaikan.

Kendala saat ini lebih banyak berada pada persiapan produksi dan pengadaan kemasan. Untuk kebutuhan awal plastik kemasan saja, biaya yang diperlukan diperkirakan mencapai sekitar Rp50 juta.
“Untuk persiapan plastiknya saja minimal membutuhkan sekitar Rp50 juta untuk pemesanan. Jadi kita masih keberatan dengan hal itu. Mudah-mudahan ke depan bisa terwujud,” katanya.

Jaro menegaskan, pengembangan kopi Gunung Kramat tidak semata-mata mengejar jumlah produksi. Lebih dari itu, pemerintah desa ingin membangun identitas kopi lokal yang benar-benar berasal dari wilayah Gunung Kramat.
Menurutnya, produk yang nantinya dipasarkan harus mampu menunjukkan karakter dan keunggulan kopi lokal, bukan sekadar menggunakan bahan baku dari daerah lain.

“Harapan memang kopi itu sebenarnya target awalnya adalah sachet. Kita kembangkan dulu. Kita jangan sampai kopi Gunung Kramat hari ini sama dengan pabrik-pabrik yang lain, yang memakai kopi yang bukan berasal dari wilayah kita,” tegasnya.

Karena itu, pengembangan dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari penanaman, perawatan tanaman, peningkatan produksi, pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga pengembangan wisata kebun kopi.

Dengan sekitar 467.000 tanaman kopi yang telah ditanam, potensi lahan sekitar 800 hektare, produksi yang terus berkembang serta peluang pasar hingga mancanegara, Pemerintah Desa Gunung Kramat optimistis kopi dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Program Sejuta Kopi diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang melibatkan petani, pengolah, pelaku usaha hingga sektor pariwisata.
Ke depan, kopi Gunung Kramat ditargetkan semakin dikenal di pasar lokal, nasional maupun internasional sekaligus menjadi bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat dan potensi wisata Kabupaten Sukabumi.

#U.Rahmawan

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 14:47 WIB

Desa Gunung Karamat Kembangkan 467 Ribu Tanaman Kopi, Bidik Ekspor hingga Wisata Kebun

Berita Terbaru