InsightTribun.com|JAKARTA – Situasi ibu kota kembali memanas. Aksi massa di kawasan Senen, Kwitang, hingga depan gedung DPR RI membuat Jakarta tak pernah benar-benar sepi, baik siang maupun malam. Ribuan masyarakat turun ke jalan, menuntut pemerintah mendengarkan aspirasi mereka.
Pakar hukum sekaligus tokoh masyarakat, Prof. DR. KH. Sutan Nasomal, SH., MH., menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Menurutnya, banyaknya korban dari kalangan masyarakat akibat gas air mata maupun tindakan represif aparat tidak akan menghentikan gerakan rakyat, kecuali Presiden RI mau memenuhi tuntutan yang sebenarnya wajar.
“Presiden bisa mengundang mahasiswa untuk duduk bersama, berdialog, dan mencari solusi terbaik. Dengan begitu, akan tercipta saling pengertian serta pelaksanaan tuntutan sederhana masyarakat,” ujarnya kepada media.
Sutan Nasomal menilai, Presiden Prabowo Subianto sejatinya memiliki niat baik dan telah berusaha keras menjawab kebutuhan rakyat. Namun, ia menyoroti adanya pihak di lingkaran kekuasaan yang dinilainya tidak cerdas, sehingga menimbulkan masalah besar.
“Kalau ada gigi yang sakit parah, lebih baik segera dicabut agar sembuh. Begitu pula, siapa pun yang membuat NKRI sakit, harus segera dicabut dari jajaran Presiden agar permasalahan selesai,” tegasnya.
Ia juga menolak isu liar yang menyebut adanya permainan negara asing di balik aksi massa. “Jangan lukai hati rakyat dengan gosip murahan. Hanya orang berhati keji yang tega menyebarkan hal seperti itu,” tambahnya.
Menurut Sutan, rakyat tidak ingin Presiden Prabowo ditikam dari belakang oleh elit politik yang haus kekuasaan. Air mata, darah, dan nyawa rakyat, katanya, sudah cukup menjadi pengingat bahwa suara masyarakat tidak boleh diabaikan.
“Harapan saya, Presiden segera membuka dialog dengan masyarakat dan mahasiswa. Itulah jalan terbaik agar gejolak ini tidak berlarut-larut,” tutupnya.
Narasumber:
Prof. DR. KH. Sutan Nasomal, SH., MH.









