InsightTribun.com|KOTA SUKABUMI – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang menjadi tuan rumah di SDN Cipanas tingkat kecamatan citamiang menjadi salah satu upaya nyata dalam melestarikan bahasa Sunda di lingkungan pendidikan. Melalui kegiatan ini, para siswa didorong untuk mengenal, mencintai, dan menggunakan bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya daerah.Sabtu 10/10/2026.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Kota Sukabumi Dadi Ruliyanto menyampaikan, apresiasi dan penghargaan kepada para kepala sekolah serta guru di Kecamatan Citamiang yang telah menyelenggarakan FTBI tingkat kecamatan.
Menurutnya, pelestarian bahasa ibu menjadi hal penting di tengah tantangan semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikannya dalam wawancara, terdapat 718 bahasa ibu di Indonesia, dengan 11 di antaranya telah mengalami kepunahan. Karena itu, FTBI diharapkan menjadi salah satu langkah untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda di Kota Sukabumi.
“Harapan kami, bahasa Sunda di Kota Sukabumi tetap lestari. Melalui FTBI, kami ingin mendorong generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai bahasa ibu,” ujarnya.
Selain sebagai sarana pelestarian budaya, FTBI juga menjadi wadah untuk menggali potensi dan prestasi siswa.
Pemerintah Kota Sukabumi berharap perwakilan dari Kecamatan Citamiang kembali berhasil melaju ke tingkat Provinsi Jawa Barat, sebagaimana prestasi yang pernah diraih pada tahun sebelumnya.
Para peserta yang menjadi juara di tingkat kecamatan dijadwalkan mengikuti FTBI tingkat Kota Sukabumi pada 4–5 November 2026. Dari ajang tersebut, para peserta terbaik diharapkan dapat mewakili Kota Sukabumi pada kompetisi tingkat provinsi.
Pihaknya optimistis bahwa dengan kemampuan dan kualitas siswa yang telah dipantau di sejumlah kecamatan, Kota Sukabumi dapat kembali mencatatkan prestasi dalam penyelenggaraan FTBI tahun ini.
“Setiap tahun, Kota Sukabumi selalu mendapatkan prestasi di tingkat provinsi. Tahun ini kami berharap tetap bisa masuk lima besar. Tentu harapan kami bisa meraih juara umum,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengawas Sekolah Dasar Kota Sukabumi, H. Nani Saribudin, menjelaskan ,bahwa pelestarian bahasa Sunda tidak cukup hanya melalui kegiatan festival. Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pembelajaran di sekolah dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui mata pelajaran muatan lokal bahasa Sunda. Para guru didorong untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Sunda kepada siswa melalui berbagai kegiatan yang menarik dan mudah diterapkan.
Ia mencontohkan pembiasaan pupuh Sunda di lingkungan sekolah. Bahkan, di sejumlah sekolah, siswa menyambut kedatangan pengawas dengan melantunkan pupuh sebagai bentuk pengenalan dan pelestarian budaya daerah.
Selain itu, pengenalan kosakata dasar bahasa Sunda juga perlu diperkuat. Menurutnya, masih terdapat siswa yang belum mengenal sejumlah kosakata sederhana dalam bahasa Sunda.
“Guru harus terus mengondisikan dan membiasakan anak-anak untuk mengenal bahasa Sunda. Kita mendukung para guru agar bahasa Sunda tidak hilang, tetapi justru semakin hidup dan digunakan oleh generasi muda,” jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi nasional tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan bahasa daerah. Pelestarian bahasa ibu juga perlu dimulai dari lingkungan keluarga, dengan membiasakan anak-anak berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat, pelestarian bahasa Sunda di Kota Sukabumi diharapkan semakin kuat. FTBI pun tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya lokal.
Dengan demikian, bahasa Sunda diharapkan tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,”pungkasnya.
Jurnalis – Neng Nur









