InsightTribun.com|SUKABUMI – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi menyalurkan bantuan air bersih bagi warga Kampung Pasirandu Jujuluk, RT 02/RW 08, Desa Pasirbaru, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan, Senin (12/10/2026).
Bantuan berupa satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter air bersih tersebut disambut antusias oleh warga. Pasalnya, sebanyak 75 kepala keluarga (KK) atau sekitar 230 jiwa di wilayah tersebut tengah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski jumlah bantuan yang diterima terbatas, kehadiran pasokan air bersih ini sangat berarti bagi masyarakat, terutama untuk memenuhi kebutuhan memasak, mencuci bahan makanan, dan keperluan rumah tangga lainnya.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci, sebagian warga terpaksa mengambil air dari Sungai Cibareno yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari permukiman. Mereka harus menggunakan kendaraan roda dua untuk mengangkut air, sedangkan sebagian lainnya memilih membeli air dengan kendaraan roda empat.
Salah seorang warga, Iyang Sulastri (42), menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu memfasilitasi pengajuan bantuan air bersih bagi masyarakat di kampungnya.
“ Saya bersama warga, yang kebanyakan ibu-ibu, menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Okih Pajri Assidiq selaku Camat Cisolok, Bapak Hendira, S.Pd., selaku Ketua PMI Kecamatan Cisolok, serta semua pihak yang telah memfasilitasi usulan dan pengajuan kebutuhan air bersih ini,” ujar Iyang.
Ia menjelaskan, kebutuhan air bersih di wilayahnya sudah sangat mendesak. Selama musim kemarau, warga kesulitan mendapatkan pasokan air untuk memasak dan mencuci bahan makanan.
Padahal, di kampung tersebut sebenarnya telah tersedia bak penampungan air berkapasitas 8.000 liter yang dibangun pada 2019 melalui dukungan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Provinsi Jawa Barat dan Baznas Kabupaten Sukabumi.
Pembangunan bak penampungan tersebut dilakukan dengan melibatkan swadaya masyarakat. Selain itu, bantuan selang PVC sepanjang 1,5 kilometer juga digunakan untuk menyalurkan air dari sumber mata air di bawah kaki Gunung Panggeleseran atau kawasan Puncak Habibi.
Namun, kondisi kemarau berkepanjangan membuat sumber mata air tersebut mengering sehingga air tidak lagi mengalir ke bak penampungan. Menurut Iyang, sumber air itu juga dimanfaatkan oleh sejumlah kampung lain yang berada di wilayah lebih atas, yakni RT 01, RT 03, dan RT 04.
“Sehubungan dengan musim kemarau ini, air dari mata air tidak mengalir ke bak penampungan karena sumbernya mengering dan digunakan juga oleh beberapa kampung di atas, seperti RT 01, RT 03, RT 04, termasuk kami di RT 02,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat warga harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih, meskipun jarak sumber air cukup jauh dan membutuhkan biaya tambahan.
Atas kondisi itu, warga berharap bantuan air bersih dapat terus diberikan selama musim kemarau masih berlangsung dan hujan belum turun secara merata. Mereka berharap adanya perhatian dan kepedulian dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga kemanusiaan, maupun pihak lainnya, agar kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tetap terpenuhi.
Bagi warga Kampung Pasirandu Jujuluk, ketersediaan air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan persoalan mendasar yang sangat menentukan keberlangsungan aktivitas sehari-hari di tengah ancaman kekeringan.
Jurnalis – Menks









